Showing posts with label catatan harian. Show all posts
Showing posts with label catatan harian. Show all posts

Thursday, March 25, 2010

Apa, .. sebuah catatan pagi ini

Pagi masih terasa sangat basah. Rumput  dan semak belukar pun masih bermandi embun. Tanah merah itu semakin padat dan membumi. Memeluk erat jasad yang terbaring di dalamnya. Bersemayam dalam keabadian dingin dan pekatnya kegelapan.

Apa ..
Pagi ini aku datang untuk berziarah kubur. Bunga rampai sejak pertama Apa terbaring di sini sudah mulai memudar warnanya dan membusuk. Kusirami dengan air doa dan bunga rampai segar yang kubawa. Tak lupa kusempatkan membaca Surah Yaasin di depan pusaramu. Aku yakin ruhmu tetap hidup, menyaksikan dan mendengarnya. Meski tak dapat memelukku dengan kehangatanmu.

Apa ..
Aku ingin katakan, saat ini kami baik-baik saja. Tetap menjalani hidup dengan semangat dan ketegaran. Menjaga Ibu dengan sebaik-baiknya. Agar ia bisa kembali tersenyum dan ceria seperti dulu, saat sebelum sakit. Aku pun mulai bisa meyakini hidupku jauh lebih baik dan berarti saat Apa dipanggil pulang. Mengapa? Karena Alloh mungkin mengetahui, akan sangat terasa kecintaanku padamu, saat Apa telah tiada. Dengan begitu aku bisa lebih menghargai apa yang sudah aku capai dan jalani, apa yang belum dan ingin kuwujudkan untukmu, dan segala kesulitan hidupku tidak lebih berat dari apa yang sudah Apa jalani selama hidupmu. Dan aku semakin menyadari ternyata Alloh lebih sayang padamu, dan menghendaki Apa berada di sisi-Nya.

Monday, March 15, 2010

Cintaku, Ayah ..!

Aku akan berusaha menjadi yang terbaik buatmu, Ayah.
Dengan kedua kakiku yang tertatih, memeluk sedikit kehangatan yang tersisa di hari lalu.
Aku pastikan kau tak akan kecewa memiliki aku sebagai puterimu.
Sebab aku sangat bangga akan dirimu.
Hari ini aku mengenangmu..
Esok hari aku ingin menemukan sepercik kedamaian dari apa yang kau nasehatkan.
Dan kelak..
Aku ingin Alloh mempertemukan kita kembali di Taman Firdaus.
Allohumma amin..

Catatan Sebelum Tidur

Adanya diriku adalah kehendak-Mu
Ketiadaanku kelak adalah memenuhi panggilan-Mu pula
Kini kubaringkan ragaku
Terima kasih untuk telah mengirimkan rasa kantuk dan lelah
Karena dengan itu aku dapat sejenak melupakan keletihanku
Dan segera kupeluk dinginnya malam dalam kesunyian di balik selimut usangku

Ya Alloh ..
Baringkan aku dengan cinta yang Kau berikan
Telah kualasi peraduanku dengan kalimat syahadat nan agung
Telah kuperisai ragaku dengan air wudhu kesucian
Dan kututup mataku dengan kalimat tauhid-Mu

Jadikanlah kematian kecil ini
Perjalanan yang membawa keselamatan
hingga tiba di ambang fajar
Dan genggamlah jiwaku di tangan-Mu yang hangat

Jika aku boleh meminta
Ijinkan aku memenuhi undangan-Mu sebelum fajar terbit
Sebab akan kukirimkan surat cintaku untuk-Mu
dan orang-orang yang terkasih
Agar tidur panjang mereka berada di istana cahaya-Mu
Amin ……





Tsm, 13 Maret 2010
23.00 Wib

Saturday, February 20, 2010

RUMAHKU .. RUMAHMU ..

Malam ini, beberapa saat yang lalu saya baru saja mendapat pesan singkat dari dua orang teman. Padahal, saya belum pernah bertemu dan mengenal keduanya sebelumnya. Tapi entah mengapa, saya mendapat kehormatan untuk mendapatkan 'berkah' menjadi sahabat sebagaimana yang diharapkannya. Alhamdulillah, saya bersyukur mendapat berkah ini, sekaligus menjadi amanah yang sedapat mungkin bisa saya laksanakan sebaiknya.

Yang pertama adalah seorang pemuda. Ia sangat sopan dalam bertutur kata, ramah dan seseorang yang menurut saya cukup 'berilmu' dibandingkan dengan saya. Sering sekali ia berkirim pesan yang sarat dengan nafas reliji. Saya salut dengannya. Dan saya berdoa semoga semua ujian kesulitan yang tengah dihadapinya segera mendapat pertolongan dan kemudahan dari Alloh SWT.

Yang kedua, adalah seorang gadis, yang saya kira mungkin dia seorang yang cantik dan anggun seindah namanya. Selang beberapa hari, sebetulnya saya ingin mengirimnya sebuah pesan singkat. Sayang sekali, kebetulan saat itu saya belum mengisi ulang ponsel saya.

Keduanya sangat berarti untuk saya. Di saat saya sendiri sekarang ini sedang membangun kepercayaan diri dan harapan. Saya ingin berbuat sesuatu yang berarti untuk diri saya dan orang lain. Sekalipun itu untuk sebuah jalinan pertemanan yang sangat jauh. Karena buat saya, bisa berbagi sesuatu dengan mereka adalah hal yang paling indah dan berharga. Ketika kepercayaan itu diberikan pada saya, ketika dengan tulusnya mereka mengulurkan tangan, hati saya tersentuh.

Wednesday, February 17, 2010

Jangan Bersedih.. Ukhti!

Saat terpejam, terkadang mata ini masih dapat menangkap cahaya yang masuk. Dan saat terbuka, mata ini melihat seberkas cahaya putih menjadi sehelai pita aneka warna.

Jikalau malam ini aku memohon sesuatu kepada-Nya, di kegelapan malam bahkan dari sudut kamarku yang gelap sekalipun.. Alloh tetap akan dapat melihatku seperti setitik nyala lilin yang berpijar. Dan bila esok fajar terbit pun, Alloh tetap akan menyambut kehadiranku bersama seberkas cahaya yang menyala di ufuk.

Sesungguhnya Dia tidaklah membutuhkanku, melainkan aku yang membutuhkan-Nya. Maka .. Mengapa aku harus ragu? Bukankah saat aku sujud, telah kubisikkan segala urusanku pada-Nya. Dia Maha Tahu dan Maha Mendengar.

Laa Tahzan ...
(Maha Suci Alloh yang menjadikan kepasrahan pada-Nya sebagai kekuatan, rasa butuh sebagai kekayaan, permohonan sebagai kemuliaan, rasa rendah diri sebagai ketinggian dan tawakal sebagai kecukupan.

Sejauh mana keinginan, kesungguhan, dan kesabaran Anda maka sejarah Anda akan menuliskannya. Kemuliaan itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Kemuliaan itu didapat dengan kesungguhan dan diperoleh dengan pengorbanan.)

Itulah nukilan yang kukutip dari DR. 'Aidh al-Qarni, sang penulis buku tersebut.

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian. Mungkin saja hidupku tinggal hari ini. Lupakan masa lalu. Lupakan kesedihan, duka, dan luka masa lalu. Beranilah untuk mengatakan, "Selamat tinggal masa lalu. Jangan pernah mengingatnya. Dan jangan pernah kembali lagi."

"Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur." (QS. Al-A'raf : 144)

Hari esok akan datang. Masa depan akan tiba. Tak perlu tergesa-gesa memburunya. Dan tak perlu menangisi sesuatu yang belum nampak. Tidak ada seorang pun yang tau apa yang akan terjadi hari esok.

" Telah pasti datangnya ketetapan Alloh, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datangnya)." (QS. An-Nahl : 1)

Laa Tahzan ..
"Senyuman itu ada bersama air mata. Kegembiraan itu ada bersama kedukaan. Karunia itu ada bersama bencana. Dan pemberian itu ada bersama ujian : sunnah yang tetap dan rumusan yang pasti."

http://www.facebook.com/notes/irma-aryasathiani-sutia/jangan-bersedih-ukhti/316996661512

Wednesday, February 10, 2010

Tuhan tidak pernah tidur, Ima...!

Tuhan itu tidak pernah tidur, Ima ..!
Segelap dan selarut apapun malam yang dilalui, bahkan sampai fajar hampir terbit kembali.

Kehidupan terus berjalan. Tak menyisakan sedikit celah untuk menunda apa yang semestinya terjadi. Bergulung dengan kabut kemarin hanya akan membuat kita semakin tertinggal. Sebab matahari selalu datang tepat waktu, memenuhi janjinya sebagai pengawal hari. Kendati di puncak hari ia akan terasa garang memanggang kulitmu, namun awan-awan tinggi akan selalu memayungimu.

Ingatlah, saat-saat 'miracle' itu dihadirkan untukmu suatu waktu dulu. Ingatkah? Bagaimana rasa hatimu? Bagaimana tangis yang kau deraikan? Bagaimana kalbumu serasa dipeluk 'rindu' yang menenangkan.

Rasa hati yang lebih lezat karena mencicipi karunia-Nya yang mengalir deras di sekujur tubuh. Dan tangis yang tak henti, namun jauh dari kepura-puraan. Tangis yang mengharap, tangis yang merindu, dan tangis yang tak akan pernah berhenti mengiringi irama hati yang merintih memohon curahan rahmat-Nya bagi cawanmu yang kering.

Tuhan tidak pernah tidur, Ima ..!
Seandainya kamu takut melewati malam ini dalam kesunyian, maka datangilah! Dan disana kamu akan mendapatkan tidak hanya selembar selimut penghangat tubuhmu, melainkan seberkas cahaya yang tidak akan pernah padam sampai kapan pun, selagi kamu tak beranjak jauh dari-Nya.

Dan lihatlah..
'Miracle' apa lagi yang akan kau temui dan dapatkan sesudahnya..

Tuesday, February 2, 2010

Di Tengah Badai .. (sebuah monolog hati)

Saat ini banyak "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan. Terkadang masalah datang bertubi-tubi. Belum tuntas satu, muncul yang baru. Terkadang ada lelah yang menghampiri. Tapi itulah hidup. Akan selalu dihadapkan pada berbagai masalah dan tantangan.

Hari ini aku baru saja memberikan sebuah 'input' untuk seseorang yang aku sayangi. Kuharap setiap kata yang kuucapkan bisa memberikan pencerahan untuk hatinya yang tengah 'berkabut' .



Ini bukan kali pertama ia mengeluhkan hal yang sama. Kegamangan menatap masa depan, kekhawatiran dan rasa percaya diri yang menipis. Hmm.. Dia bukan orang pertama yang pernah merasakan ini. Di suatu waktu dulu, aku pernah mengalaminya. Terombang-ambing diantara perasaan yang berkecamuk. Kehilangan pekerjaan, merasa ditinggalkan oleh sahabat dan kerabat, seakan terseret jauh ke belakang, ditinggalkan perubahan zaman yang justru berlari semakin cepat. Terkurung dalam keputusasaan yang hanya menambah diri semakin tenggelam.

Under Pressure..

Ini bukan sinetron. Bukan film atau sebuah adegan teatrikal. Ini benar-benar nyata terjadi. Namun selayaknya sebuah film, yang terjadi kali ini adalah sebuah episode baru.

Sama seperti episode-episode sebelumnya, setiap hal yang kulalui seolah tak pernah ada dalam manuskripku. Semua berjalan dan terjadi begitu saja.

Kemarin.. Telah kulalui hari yang berat. Menyeretku dalam kumparan emosi yang tak terkendali. Sebetulnya tak perlu ada kejadian 'klimaks' seperti itu. Memporakporandakan sebuah rasa yang tadinya setenang telaga yang bening.

Aku hanya bisa berteriak, menjerit, tanpa dapat mengatakan apapun yang ada dalam isi kepalaku, dalam dasar hatiku. Karena semua itu seolah hilang dan lenyap. Dimakan waktu yang cukup panjang.

Aku pikir telah bisa menghapus jelaga-jelaga itu dari wajahku. Namun mengapa kerikil-kerikil itu masih bersarang di alas kakiku? Membuat perjalananku terseok-seok, terluka dan letih.

Sebetulnya apa yang kurasakan saat ini? Terkadang aku tak mengerti.


Tsm, 16 Nov '09

11 Juli 2009

Tuhan..
Dia memang tidak rupawan, tuna harta dan masa lalu yang kelam. Sejak hari dimana aku dipertemukan, oleh sebuah jalur yang tak nampak, oleh sebuah mimpi yang dibangun lewat satu kata 'persamaan' ..

Sejak itu, hari-hari terasa ringan saat aku melangkah. Pagi terasa lebih bercahaya. Dan malam terasa lebih hangat dari selembar selimut tebal.

Satu nama itu..
Entah mengapa, mimpi itu terbit begitu saja. Menggelinding tanpa dapat kucegah. Mungkin aku telah terseret ke dalam sebuah pusaran. Dimana aku bertemu dan jatuh di sebuah dasar yang paling dalam. Dan di dasar itu aku tidak menemukan apa-apa kecuali, ... Cinta ..

Wednesday, January 27, 2010

Catatan Penguat Hati

Aku cuma ingin kamu tahu..

Betapa banyak hal yang bisa kamu perbuat. Untukmu, untuk masa depanmu, dan kehidupan yang berjalan saat ini.

Tak perlu menangisi keadaan, tak harus menerawang jauh ke masa yang belum pernah kita datangi, sebab hari ini sangat berarti. Hari esok akan ditentukan pada langkah kita hari ini. Berbuatlah yang terbaik hari ini, dan esok pasti akan lebih baik.

Ambillah keputusan yang tepat dan bijaksana, bekali hatimu dengan keyakinan dan doa. Melangkah dengan menyertakan nama Alloh dalam setiap tarikan nafasmu. Jika kamu sanggup melewati fase dari kegelapan menuju satu titik cahaya. Anggap saja kamu sudah melalui sebuah lubang jarum. Dan selanjutnya, merajutlah! Agar menjadi sebuah kain putih dan warnai dengan lukisanmu.

Tentukan pilihanmu, mantapkan hati, raih kesempatan dan peluang, jadilah manusia baru yang berjiwa besar dan pemberani.

Kita akan saling menguatkan, dan Alloh sebaik-baiknya tempat memohon kekuatan. Sebab cahaya hati hanya didapatkan dari ketentraman jiwa dan hati yang tawadhu.

Selamat berjuang.. !
Cakrawala baru menantimu..

http://www.facebook.com/notes/irma-aryasathiani-sutia/catatan-penguat-hati/287366471512

Saturday, January 23, 2010

Catatan hati

Sudah hari yang keduapuluh tiga di bulan ini. Kemarin kita telah membukukan hari dalam bias kelabu. Tak usah risau. Terkadang hujan yang turun menyertakan badai dan jelaga di setiap jejak yang tertinggal. Adakalanya pula matahari enggan menyembul kembali sesudahnya. Tapi bukan berarti hari akan selamanya diwarnai hujan badai.

Aku percaya, esok atau lusa hari akan cerah kembali. Karena kita masih punya rencana menjemput matahari yang terbit di bibir ufuk.

Dan meski aku tak selalu ada di sisimu, aku selalu mengirimkan pesan cintaku pada awan-awan yang mengangkasa. Agar selalu menaungimu, dengan seizin-Nya pula aku berharap airmata yang menetes di penghujung malam tadi menjadikan setiap permohonan kita berujung kebahagiaan.

Jangan bersedih, sayangku!
Karena Dia lebih dekat dari urat leher kita, maka jangan pernah letih memohon karunia-Nya. Hingga hati kita akan selalu dipenuhi kedamaian..

Ya Alloh, Ya Tuhanku..
Sempatkan kami sampai di gerbang itu, dalam perjalanan menyempurnakan setengah agama kami. Dalam cinta dan keridhaan-Mu.
Amin yaa robbal alamin ...

Friday, January 22, 2010

Penantian

Ya Alloh..
Dalam kesendirianku, aku hanya memohon kekuatan agar senantiasa dibekali dengan rasa aman dan jauhkan aku dari segala kegelisahanku, duka lara dan nestapa. Sebab Engkau sebaik-baiknya pelindungku. Aku percaya Engkau telah menyiapkan satu rencana besar untukku. Agar hidupku lebih berwarna dengan kehadirannya, yang akan menyalakan malam-malam gelapku dengan sebatang pelita dalam genggaman tangannya.

Aku senantiasa menantikannya, satu hari dimana Engkau menjadikan penantian ini sebuah keindahan dan karunia yang tak terhingga. Cukupkanlah usiaku, hingga hari dimana aku dapat menjemputnya. Karena aku telah merindukannya bersama peri-peri kecil yang mengiringi sesudahnya, yang kelak akan Kau titipkan pada kami. Semoga tak akan lama lagi. Karena penantianku ingin berujung pada keridhaan Engkau, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan.

Sunday, January 3, 2010

... Catatan Tahun Baru ..

Warna langit malam itu tampak menyala-nyala. Diselilingi serentetan letusan besar dan kecil, memekakkan telinga. Ada teriakan histeris, tawa riang dan tangis haru. Masing-masing hanyut dalam alam fikirannya sendiri.

Sekejap. Hanya sekejap saja. Dan semua kemeriahan itu lenyap sudah. Seperti ombak menggulung di pesisir, yang tersisa hanya buihnya saja. Tapi ada satu yang saya herankan malam itu. Saat saya terbangun karena suara di kejauhan. Sayup sampai, tapi lama-kelamaan semakin kuat dan syahdu. Suara itu lebih baik dari hingar bingar kembang api yang sengaja dilontarkan ke langit malam, tepat di puncak peralihan zona waktu. Suara itu memanggil lebih banyak umat untuk bertafakur dan mendekat kepada Rabb-Nya.

Ah.. Saya jadi teringat, sebelum pulang dari kantor tadi, teman saya sempat berpesan kalau malam nanti akan ada gerhana bulan. Kemudian tanpa menunggu lagi, saya bangkit dari pembaringan. Karena memang sedari tadi tidak bisa tidur, terusik oleh suara lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang baru pulang dari keramaian menyambut pergantian tahun.

Saya putuskan untuk duduk sebentar, mengikuti alunan gema takbir yang tengah berkumandang di kejauhan. Beberapa saat yang lalu, saya merasa sepi di keramaian dan gegap gempita orang-orang yang ramai membicarakan hendak kemana nanti malam? Hendak membuat rencana apa nanti malam? Dengan lugu saya jawab, di rumah saja. Itu sudah cukup. Tapi ternyata di rumah dengan tanpa berbuat apa-apa pun membuat saya cukup merasakan betapa waktu terasa berjalan sangat cepat. Ketika tersadar, sudah memasuki babak baru dalam hidup saya.

Tuesday, December 29, 2009

Rindu Emak..

Emak ..
Ada kenangan yang mengalir di setiap kehadiranmu di mimpiku. Seraut wajah yang teramat putih bercahaya. Masih tetap berkain kebaya serta rambut tersanggul kecil yang selalu kuingat, dulu aku sering menyisiri dan meminyakinya. Empatbelas tahun sudah terbaring di tanah merah itu. Mungkin kini yang tersisa hanyalah seonggok kerangka tulang belulang. Tak ada lagi tubuh gemuk Emak yang dulu sering aku peluk. Dan aku pernah berlama-lama di gendonganmu saat kecil dulu. Menangis minta dibelikan es lilin, atau merengek minta dibelikan seikat rambutan sepulang mengambil uang pensiunan. Ah.. Emak! Aku kangen Emak!

Emak ..
Entah kenapa Alloh sering menghadiahiku mimpi bertemu denganmu. Mungkin Alloh hendak menunjukkan padaku kalau Emak kini telah beristirahat dengan tenang di sana. Mungkin pula Alloh telah memperlihatkan rona surga itu buat Emak. Sebab aku selalu melihat aura cahaya putih yang memberkas di wajahmu. Mungkin Alloh hendak mengisyaratkan padaku, bahwa Emak telah memaafkan kesalahanku dulu.

Emak ..
Aku masih ingat. Sepulang asrama dulu aku sangat sedih mendapatkan kenyataan Emak terbaring tak berdaya di pembaringan. Kakimu tampak semakin mengecil karena terlalu letih menopang tubuhmu yang gemuk dan membungkuk.

.. Renungan Dinihari ..

Rumah itu bernama sabar, manisku.
Di pintu masuknya terpahat sebaris kalimat "Buah yang sangat pahit, namun terasa manis pada akhirnya".

Manis setara madu bahkan secawan anggur. Tidak membuat mabuk, sebaliknya menenangkan dan membawa ketenangan.

Saat melangkah masuk, kakimu akan menyentuh lantainya yang dingin menyejukkan. Tahukah sebabnya? Karena lantainya adalah keikhlasan hatimu, kesucian niatmu dan keluhuran budi pekertimu. Tiang-tiangnya diambil dari keteguhanmu menjalankan segala yang telah diperintahkan-Nya serta menjauhkan diri dari hal yang dilarang-Nya. Kokoh dan kuat selamanya.

Rumah itu menunggu kepulanganmu. Selalu. Setiap saat.

Maka manakala kau telah cukup letih berjalan, dengan pundak sarat beban, pulanglah! Berdiamlah di biliknya. Sejauh manapun kamu berjalan. Dan seberat apapun pikulanmu, di rumah ini semua akan teratasi. Sebab di rumah ini ada sebuah pelita yang tak pernah berhenti berpijar. Pelita itu adalah Nur Illahi.

Nah.. Kamu tak akan pernah kegelapan berada di sana selama apapun, manisku. Karenanya .. Tak perlu bersedih lagi, ya! Tersenyumlah.. Sebab rumah itu diperuntukkan bagi mereka yang mengharap agar lebih didekatkan dan memperoleh kasih sayang-Nya. Hmm.. Semoga kita dapat menghuni rumah itu bersama-sama.

Thursday, December 24, 2009

Abang.. Apa kabar?

Abang..
Apa kabarmu? Lama tak kutemui. Kuharap Alloh senantiasa memberkahi dan melindungimu.
Akhir pekan kedua yang sunyi. Padahal matahari menawarkan rona ceria yang indah. Dan sebaris awan putih yang berarak di langit biru, seakan melambaikan ajakan untuk mengangkasa bersamanya.

Andai saja hari ini ada bersamaku. Andai saja pagi ini langkah kita bisa seiring dan padu dalam lanskap yang menjanjikan keindahan dan harapan baru. Gitar itu menunggu untuk dipetik. Dan dari dawainya akan mengalunkan melodi tentang kedamaian dan kerinduan hati. Biar kutimpali dengan senandungku. Mengiringi setiap petikannya. Satu lagu yang selalu menjadi pelepas kepenatan kita. Dan dengarlah ini ...

"Di bayang wajahmu.
Kutemukan kasih dan hidup yang lama telah aku cari di masa lalu.
Kau datang padaku.
Kau tawarkan hati nan lugu selalu mencoba mengerti hasrat dalam diri..

Kau mainkan untukku.
Sebuah lagu tentang negeri di awan.
Dimana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa aku menuju ke sana.
Ternyata hatimu penuh dengan bahasa kasih.
Yang terungkapkan dengan pasti dalam suka dan sedih... "


Dan kuharap negeri di awan itu bukan sekedar impian, Abang ..

Catatan 15 November 2009

Mengapa harus merisaukan sesuatu yang belum terjadi, Abang? Hidup memang sulit. Tak mudah untuk dilalui dengan hanya berpangku tangan.

Bagaimana masa depanku, bagaimana harus kujalani hidup ini, bagaimana harus kulalui hari esok? Dan sederet pertanyaan itu, .. yang mungkin menjejali ruang benakmu. Tak pernah aku mendengar kata-kata ini sebelumnya darimu. Seberat apapun masalah yang kamu hadapi. Padahal setahuku, di suatu waktu dulu kamu telah banyak melewati malam-malam gelap. Dalam ketidakpastian, dalam kekaburan fikiran dan rasa.

Masih ingatkah.. Abang?
Saat itu pernah mengatakan ini padaku. Jika seseorang ingin melihat fajar esok hari, maka ia harus melewati malam gelap. Dan itu artinya ada fase yang harus dilalui jika ingin sampai ke hari esok untuk menjemput fajar pagi. Tak ada satu pun yang aku ragukan kala itu. Selain kekaguman akan perjuangan seorang laki-laki yang tengah mencoba berdiri tegak kembali diantara reruntuhan kehidupan masa lalunya.

Monday, December 21, 2009

... Dalam Dekapan Rasa ...

Camkan dalam hati. Rasa ini masih tetap hidup. Seperti sebuah kumparan waktu. Merayap.. Perlahan tapi pasti. Kendati tak bisa mengulang segala keindahan itu. Meski tak banyak kata yang mampu kuuraikan di tengah kerinduan ini.

Tuhan.. Andainya hati boleh memilih sendiri pilihannya, aku mau saat itu dia menjadi penghuni bilik sebagiannya. Agar bisa padu dan lengkap keberadaannya.

Ah.. Cintaku!
Sudahlah, sampai di sana saja mungkin rasa ini tertambatkan. Karena tanpa aku harus melanjutkannya bersamamu, rasa ini tak pernah hilang.

Sebab aku adalah pemilik hatimu di suatu waktu dulu.

Tuesday, December 8, 2009

IKRAR SUCI


Semalam hujan deras mengguyur tanah ini. Hati ini pun ikut basah mengiringi setiap tetesannya yang jatuh dari atap langit.

Malam hanya sebuah kanvas hitam pekat kurasakan kini. Tak ada lagi warna-warna pastel yang kusuka dari paletku. Karena hanya kelabu yang tersisa. Menambah muram lukisanku.

Arrggh.. !!
Kulemparkan lanskap kemarin dulu itu di keheninganku. Menepi di bilik sunyi yang meredamkan amarahku.

Dawai kecapi itu akan segera terpetik bersama tembang cinta pengantar ikrar suci.
Oh, cinta ..!
Bukannya aku menangisi sekeping hati yang tercerabut. Hanyalah sebatas ruang bagiku melepaskan belenggu rasa.
Tak ada yang lebih baik selain melepaskan cinta ini, menyaksikan sang pujaan hati menjemput cintanya.
Karena kutahu senyum itu tak pernah terlukis manakala ada bersamaku. Dan mata itu hanya akan berbinar manakala seberkas cinta yang lain menyentuh pandangannya.

Saturday, December 5, 2009

UNGKAPANKU ..

Aku suka dia.
Tapi mampukah aku mencintai sebesar cintanya padaku?
Terkadang rindu ini membekukan lidahku.
Tak bergeming dalam kata-kata yang terkunci.

Tuhan, ..
Benarkah rasa ini untuk kunikmati?
Seakan dawai-dawai itu terpetik dan mengalunkan kidung cinta.
Anganku berhamburan. Saling mendahului dan berkejaran. Menepi di batas yang tak mampu kuraih kini.

Aduhai...!!
Jika rasa ini memabukkanku belaka, aku hanya berharap segayung air secepatnya membangunkanku dari keadaan ini.

Jika rasa ini menenangkanku, biar kuyakini.
Hati ini selalu ada untukmu, walau sehelai kabut senantiasa membayang di pelupuk mata.



*Diinspirasi dari salah seorang teman, ..

Makasih ya buat semuanya!
http://www.facebook.com/note.php?note_id=208249521512