Rumah itu bernama sabar, manisku.
Di pintu masuknya terpahat sebaris kalimat "Buah yang sangat pahit, namun terasa manis pada akhirnya".
Manis setara madu bahkan secawan anggur. Tidak membuat mabuk, sebaliknya menenangkan dan membawa ketenangan.
Saat melangkah masuk, kakimu akan menyentuh lantainya yang dingin menyejukkan. Tahukah sebabnya? Karena lantainya adalah keikhlasan hatimu, kesucian niatmu dan keluhuran budi pekertimu. Tiang-tiangnya diambil dari keteguhanmu menjalankan segala yang telah diperintahkan-Nya serta menjauhkan diri dari hal yang dilarang-Nya. Kokoh dan kuat selamanya.
Rumah itu menunggu kepulanganmu. Selalu. Setiap saat.
Maka manakala kau telah cukup letih berjalan, dengan pundak sarat beban, pulanglah! Berdiamlah di biliknya. Sejauh manapun kamu berjalan. Dan seberat apapun pikulanmu, di rumah ini semua akan teratasi. Sebab di rumah ini ada sebuah pelita yang tak pernah berhenti berpijar. Pelita itu adalah Nur Illahi.
Nah.. Kamu tak akan pernah kegelapan berada di sana selama apapun, manisku. Karenanya .. Tak perlu bersedih lagi, ya! Tersenyumlah.. Sebab rumah itu diperuntukkan bagi mereka yang mengharap agar lebih didekatkan dan memperoleh kasih sayang-Nya. Hmm.. Semoga kita dapat menghuni rumah itu bersama-sama.
Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts
Tuesday, December 29, 2009
Thursday, December 24, 2009
Catatan 15 November 2009
Mengapa harus merisaukan sesuatu yang belum terjadi, Abang? Hidup memang sulit. Tak mudah untuk dilalui dengan hanya berpangku tangan.
Bagaimana masa depanku, bagaimana harus kujalani hidup ini, bagaimana harus kulalui hari esok? Dan sederet pertanyaan itu, .. yang mungkin menjejali ruang benakmu. Tak pernah aku mendengar kata-kata ini sebelumnya darimu. Seberat apapun masalah yang kamu hadapi. Padahal setahuku, di suatu waktu dulu kamu telah banyak melewati malam-malam gelap. Dalam ketidakpastian, dalam kekaburan fikiran dan rasa.
Masih ingatkah.. Abang?
Saat itu pernah mengatakan ini padaku. Jika seseorang ingin melihat fajar esok hari, maka ia harus melewati malam gelap. Dan itu artinya ada fase yang harus dilalui jika ingin sampai ke hari esok untuk menjemput fajar pagi. Tak ada satu pun yang aku ragukan kala itu. Selain kekaguman akan perjuangan seorang laki-laki yang tengah mencoba berdiri tegak kembali diantara reruntuhan kehidupan masa lalunya.
Bagaimana masa depanku, bagaimana harus kujalani hidup ini, bagaimana harus kulalui hari esok? Dan sederet pertanyaan itu, .. yang mungkin menjejali ruang benakmu. Tak pernah aku mendengar kata-kata ini sebelumnya darimu. Seberat apapun masalah yang kamu hadapi. Padahal setahuku, di suatu waktu dulu kamu telah banyak melewati malam-malam gelap. Dalam ketidakpastian, dalam kekaburan fikiran dan rasa.
Masih ingatkah.. Abang?
Saat itu pernah mengatakan ini padaku. Jika seseorang ingin melihat fajar esok hari, maka ia harus melewati malam gelap. Dan itu artinya ada fase yang harus dilalui jika ingin sampai ke hari esok untuk menjemput fajar pagi. Tak ada satu pun yang aku ragukan kala itu. Selain kekaguman akan perjuangan seorang laki-laki yang tengah mencoba berdiri tegak kembali diantara reruntuhan kehidupan masa lalunya.
Wednesday, December 23, 2009
Keagungan Tuhan
.. Sebuah prosa lirik yang diangkat dari catatan status Facebook Arda Dinata & Irma Aryasathiani ..
Angin bertiup bukan tanpa tujuan. Ia bertasbih dengan aneka kekhususan nilai Illahi. Aku merindukan kecemerlangan, kesucian, dan kebahagiaan ..
Datanglah wahai anginku ..!
Aku datang padamu, wahai Fulan!
Membawa butiran air yang akan membasahi ladang keringmu, menumbuhkan benih di tanah harapanmu, dan akan kusemaikan menjadi pertamanan yang membawa rona surgawi di sanubarimu. Sebab tadi pagi Tuhan telah mengirimkan pesannya padaku, untuk menuangkan anggur rahmat-Nya bagi cawan yang diberkahi.
Butiran air, ia datang laksana mutiara yang bercahaya dan cermin rasa dahaga bagi hamba Tuhan yang mengharap kasih dan berada dalam dekapan ridha-Nya.
Angin bertiup bukan tanpa tujuan. Ia bertasbih dengan aneka kekhususan nilai Illahi. Aku merindukan kecemerlangan, kesucian, dan kebahagiaan ..
Datanglah wahai anginku ..!
Aku datang padamu, wahai Fulan!
Membawa butiran air yang akan membasahi ladang keringmu, menumbuhkan benih di tanah harapanmu, dan akan kusemaikan menjadi pertamanan yang membawa rona surgawi di sanubarimu. Sebab tadi pagi Tuhan telah mengirimkan pesannya padaku, untuk menuangkan anggur rahmat-Nya bagi cawan yang diberkahi.
Butiran air, ia datang laksana mutiara yang bercahaya dan cermin rasa dahaga bagi hamba Tuhan yang mengharap kasih dan berada dalam dekapan ridha-Nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Web Teman
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by irmaaryasathiani