Showing posts with label reliji. Show all posts
Showing posts with label reliji. Show all posts

Wednesday, December 23, 2009

Keagungan Tuhan

.. Sebuah prosa lirik yang diangkat dari catatan status Facebook Arda Dinata & Irma Aryasathiani ..

Angin bertiup bukan tanpa tujuan. Ia bertasbih dengan aneka kekhususan nilai Illahi. Aku merindukan kecemerlangan, kesucian, dan kebahagiaan ..
Datanglah wahai anginku ..!

Aku datang padamu, wahai Fulan!
Membawa butiran air yang akan membasahi ladang keringmu, menumbuhkan benih di tanah harapanmu, dan akan kusemaikan menjadi pertamanan yang membawa rona surgawi di sanubarimu. Sebab tadi pagi Tuhan telah mengirimkan pesannya padaku, untuk menuangkan anggur rahmat-Nya bagi cawan yang diberkahi.

Butiran air, ia datang laksana mutiara yang bercahaya dan cermin rasa dahaga bagi hamba Tuhan yang mengharap kasih dan berada dalam dekapan ridha-Nya.

Saturday, December 19, 2009

SENYUM PAK TUA

… Sebuah catatan di Bulan Ramadhan 1429 H …


Pagi itu saya hendak berangkat ke kantor. Seperti biasanya, saya berjalan kaki karena jarak rumah ke kantor hanya sepuluh menit saja. Sambil menikmati langit pagi yang saat itu membiru jernih dengan sapuan awan cirrus berarak pelan. Sebelum mencapai kantor, saya harus melewati keramaian pasar yang letaknya persis berada di tengah-tengah jarak dari rumah ke kantor. Biasanya banyak penarik becak yang menawari saya jasanya dan beberapa pedagang kue yang berderet di sepanjang jalan.

Ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya. Di sudut sebuah lapak pedagang pisang, biasanya duduk berjongkok seorang pak tua bertopi dengan tas pinggang melingkarinya. Hanya selembar plastik sebagai alas duduknya. Dan sebuah mangkok plastik kecil berisi kepingan uang logam atau kertas, dari beberapa pembeli yang lalu lalang dengan belanjaan yang penuh di tangan. Senyum si pak tua itu selalu terkembang, berapa pun nilai uang recehan yang masuk ke dalam mangkok plastiknya.

OASE RAMADHAN


Siang yang terik. Awan-awan menggumpal di angkasa. Aku berjalan, mengayuh langkah letih ini diantara panas dan udara yang membawa debu. Titik- titik peluh mengembang di pelipisku. Beberapa lapak tampak menutup dengan kain terbebat di sekelilingnya. Ada keriuhan kecil di dalam sana. Bunyi dentingan piring dan sendok, serta gurauan pengunjung dan pemilik lapak tersebut.

'Mak, .. Aku lapar,' rintih puteri kecilku yang berjalan terseok-seok di sampingku. Wajahnya memucat dengan titik-titik peluh di sana. Ah, anakku.. Sabar ya, hiburku dalam hati. Kuseret langkah ini semakin cepat menghindari keramaian kecil itu. Ah, anakku. Emak tahu kamu mengharapkan sepiring nasi dingin dengan sedikit lauk pengganjal perutmu yang merintih sejak pagi tadi.
'Maak.. Aku lapar, mak!' rintihnya lagi. Wajahnya yang lugu mengundang ibaku, matanya beriak-riak. Kuusap rambutnya yang hitam kecoklatan. Ah, ya Alloh..! Apa yang barusan aku lakukan? Rintihku. Aku menepi di sudut jalan sepi, diantara ruko-ruko yang hangus terbakar kemarin malam. Di empernya aku duduk berjongkok. Kuraih benda hitam kecil dari buntalan saputanganku yang terselip di dalam bakul gendonganku. Dengan tangan gemetar kubuka benda itu.