Emak ..
Ada kenangan yang mengalir di setiap kehadiranmu di mimpiku. Seraut wajah yang teramat putih bercahaya. Masih tetap berkain kebaya serta rambut tersanggul kecil yang selalu kuingat, dulu aku sering menyisiri dan meminyakinya. Empatbelas tahun sudah terbaring di tanah merah itu. Mungkin kini yang tersisa hanyalah seonggok kerangka tulang belulang. Tak ada lagi tubuh gemuk Emak yang dulu sering aku peluk. Dan aku pernah berlama-lama di gendonganmu saat kecil dulu. Menangis minta dibelikan es lilin, atau merengek minta dibelikan seikat rambutan sepulang mengambil uang pensiunan. Ah.. Emak! Aku kangen Emak!
Emak ..
Entah kenapa Alloh sering menghadiahiku mimpi bertemu denganmu. Mungkin Alloh hendak menunjukkan padaku kalau Emak kini telah beristirahat dengan tenang di sana. Mungkin pula Alloh telah memperlihatkan rona surga itu buat Emak. Sebab aku selalu melihat aura cahaya putih yang memberkas di wajahmu. Mungkin Alloh hendak mengisyaratkan padaku, bahwa Emak telah memaafkan kesalahanku dulu.
Emak ..
Aku masih ingat. Sepulang asrama dulu aku sangat sedih mendapatkan kenyataan Emak terbaring tak berdaya di pembaringan. Kakimu tampak semakin mengecil karena terlalu letih menopang tubuhmu yang gemuk dan membungkuk.
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Tuesday, December 29, 2009
Monday, December 21, 2009
CERITA SEMUSIM LALU
Yang dibutuhkan buatku saat itu cuma waktu. Waktu untuk bisa sekedar menepi dari keadaan yang teramat pelik. Saat hati dan fikiran tak sejalan. Dan ternyata waktu itu telah memberiku satu ruang untuk berkata, aku bisaaa ……!!
***
Siang itu aku beranikan diri mengirimkan pesan singkat ini.
“Halo ..” dan aku menunggu selanjutnya. Ah, tidak .. tidak .. . Aku tidak menunggu apapun, hanya sekedar itu. Tak lebih.
“Halo juga ..” dan aku tercenung sejenak, mendengar nada pesan masuk. Melihat layar kecil itu dengan tersenyum puas dan segera kututup. Klik.
Hanya sekali itu. Dan ingin hanya sekali itu saja. Tak lebih. Sekedar menepati janjiku untuk mencobanya saja. Tapi .. beberapa menit kemudian…
“Halo ini siapa?” .. tulis dari seberang. Dan aku tak punya keberanian lagi untuk melanjutkannya.
Beberapa kali kukatakan pada diriku. Masa itu telah lewat. Tak mungkin lagi akan terulang. Tak mungkin lagi akan kembali. Aku sudah berjanji untuk tidak meratapinya lagi. Aku sudah dengan kekuatan penuh berudaha untuk bisa melangkah lagi, dan keluar dari kenangan rawan itu. Ah, semoga saja. Semoga saja Ya Alloh, gumamku.
***
***
Siang itu aku beranikan diri mengirimkan pesan singkat ini.
“Halo ..” dan aku menunggu selanjutnya. Ah, tidak .. tidak .. . Aku tidak menunggu apapun, hanya sekedar itu. Tak lebih.
“Halo juga ..” dan aku tercenung sejenak, mendengar nada pesan masuk. Melihat layar kecil itu dengan tersenyum puas dan segera kututup. Klik.
Hanya sekali itu. Dan ingin hanya sekali itu saja. Tak lebih. Sekedar menepati janjiku untuk mencobanya saja. Tapi .. beberapa menit kemudian…
“Halo ini siapa?” .. tulis dari seberang. Dan aku tak punya keberanian lagi untuk melanjutkannya.
Beberapa kali kukatakan pada diriku. Masa itu telah lewat. Tak mungkin lagi akan terulang. Tak mungkin lagi akan kembali. Aku sudah berjanji untuk tidak meratapinya lagi. Aku sudah dengan kekuatan penuh berudaha untuk bisa melangkah lagi, dan keluar dari kenangan rawan itu. Ah, semoga saja. Semoga saja Ya Alloh, gumamku.
***
Saturday, December 19, 2009
SEPERCIK EMBUN DI UJUNG DAUN
Hidup ini terasa indah, sahabatku. Demikian seorang kawan karib pernah mengatakan ini padaku. Tapi saat ini, yang kutahu hidup ini terasa sempit dan tak adil untukku. Mengapa? Mengapa selalu kata itu yang terucap olehku. Tuhan telah memberiku berbagai karunia. Sampai saat ini aku masih diberi nikmat sehat dan pertambahan usia di sisa waktuku di dunia ini.
***
Purnama merekah, memburam di balik segumpal awan. Aku baru saja hendak menutup jendela kamarku mala mini. Tapi kuurungkan, ketika yang kurasakan hanya desiran angin malam yang membelai mesra wajahku. Dan beribu bintang yang bertaburan mulai bermunculan, menyingkap awan-awan putih. Menyatu dengan pesona purnama yang kini menyorotkan cahaya, menembus ke dalam kamarku yang temaram.
Aku berdiam dan merenung. Kilasan yang terjadi hari0hari sebelumnya tampak membayang di pelupuk mataku. Hidup ini memang tidak selamanya dihadapkan pada hal yang menyenangkan. Sebuah kelahiran pasti diakhiri dengan kematian. Sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. Dan sebuah kesedihan pasti akan bertemu dengan kebahagiaan di suatu hari kemudian. Semua sudah ada penyeimbangnya. Tak ada yang perlu diragukan.
Tuesday, December 8, 2009
IKRAR SUCI

Semalam hujan deras mengguyur tanah ini. Hati ini pun ikut basah mengiringi setiap tetesannya yang jatuh dari atap langit.
Malam hanya sebuah kanvas hitam pekat kurasakan kini. Tak ada lagi warna-warna pastel yang kusuka dari paletku. Karena hanya kelabu yang tersisa. Menambah muram lukisanku.
Arrggh.. !!
Kulemparkan lanskap kemarin dulu itu di keheninganku. Menepi di bilik sunyi yang meredamkan amarahku.
Dawai kecapi itu akan segera terpetik bersama tembang cinta pengantar ikrar suci.
Oh, cinta ..!
Bukannya aku menangisi sekeping hati yang tercerabut. Hanyalah sebatas ruang bagiku melepaskan belenggu rasa.
Tak ada yang lebih baik selain melepaskan cinta ini, menyaksikan sang pujaan hati menjemput cintanya.
Karena kutahu senyum itu tak pernah terlukis manakala ada bersamaku. Dan mata itu hanya akan berbinar manakala seberkas cinta yang lain menyentuh pandangannya.
Saturday, December 5, 2009
UNGKAPANKU ..
Aku suka dia.
Tapi mampukah aku mencintai sebesar cintanya padaku?
Terkadang rindu ini membekukan lidahku.
Tak bergeming dalam kata-kata yang terkunci.
Tuhan, ..
Benarkah rasa ini untuk kunikmati?
Seakan dawai-dawai itu terpetik dan mengalunkan kidung cinta.
Anganku berhamburan. Saling mendahului dan berkejaran. Menepi di batas yang tak mampu kuraih kini.
Aduhai...!!
Jika rasa ini memabukkanku belaka, aku hanya berharap segayung air secepatnya membangunkanku dari keadaan ini.
Jika rasa ini menenangkanku, biar kuyakini.
Hati ini selalu ada untukmu, walau sehelai kabut senantiasa membayang di pelupuk mata.
*Diinspirasi dari salah seorang teman, ..
Makasih ya buat semuanya!
http://www.facebook.com/note.php?note_id=208249521512
Tapi mampukah aku mencintai sebesar cintanya padaku?
Terkadang rindu ini membekukan lidahku.
Tak bergeming dalam kata-kata yang terkunci.
Tuhan, ..
Benarkah rasa ini untuk kunikmati?
Seakan dawai-dawai itu terpetik dan mengalunkan kidung cinta.
Anganku berhamburan. Saling mendahului dan berkejaran. Menepi di batas yang tak mampu kuraih kini.
Aduhai...!!
Jika rasa ini memabukkanku belaka, aku hanya berharap segayung air secepatnya membangunkanku dari keadaan ini.
Jika rasa ini menenangkanku, biar kuyakini.
Hati ini selalu ada untukmu, walau sehelai kabut senantiasa membayang di pelupuk mata.
*Diinspirasi dari salah seorang teman, ..
Makasih ya buat semuanya!
http://www.facebook.com/note.php?note_id=208249521512
Friday, December 4, 2009
CINTA

Cinta, ..
Biarkan dia bersamaku malam ini. Jangan biarkan dia pergi. Paling tidak untuk sekali ini.
Cinta, ..
Andaikan dia datang untukku dengan membawa bingkisan hatinya ..
Tentu aku adalah orang yang paling bahagia.
Sebab aku telah menyematkan namanya di jiwaku.
Dan andaikan dia bukan untukku.
Palingkan sejenak wajah itu untuk menatapku.
Biarkan dia mencari di kedalaman mataku.
Cintaku tak akan luruh kendati setelah ini dia akan menjauh, untuk menemui cintanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Web Teman
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by irmaaryasathiani
